Selasa, 21 September 2010

Episode : HBS Taman Jurug, di Tepi Bengawan Solo


Awal belajar melukis sambil mulai membuat komik
 Tahun 1976-77, Herri Soedjarwanto ( 18 tahun), sedang mengerjakan komiknya Kho Ping Ho “Si Tongkat Sakti”  ( 7 jilid ) dan dilanjutkan dengan “Patung Dewi Kwan Im”… dalam rangka mencari beaya karena ingin kuliah di ASRI Jogja, atau Seni Rupa ITB..  Awalnya komik itu dikerjakannya di rumah orang tuanya disebuah kampung kumuh dan sempit di Solo. Kampung yang padat dengan  puluhan anak-anak kecil yang  bila bermain ,disertai dengan  jeritan ramai dan gaduh,  tentu kurang kondusif untuk menyusun karangan / scenario dan gambar untuk sebuah komik, yang membutuhkan ketenangan.
Saat itu Herri terdaftar sebagai anggota HBS ( Himpunan Budaya Surakarta ). Ketika seseorang menawarkan pada HBS dan langsung pada Herri , untuk menempati / menunggu sebuah  bangunan kosong ( bekas gedung  Billiard ) di Taman Jurug di tepi sungai Bengawan Solo, tanpa pikir panjang  lagi Herri  langsung setuju dan pindah kesana, memboyong seluruh alat lukisnya dan juga komiknya..
Taman Jurug waktu itu adalah sebuah taman rekreasi yang  mati, hanya ramai dikunjungi pada hari Minggu siang. Stand Billiard yang kemudian diganti permainan pachinko-pun  sudah mati, Itu sebabnya bangunannya dipinjamkan ke HBS. Di situlah  setiap hari Minggu,  menggunakan  momentum ramainya pengunjung ,  HBS mengadakan kegiatan melukis model  bersama .
Lokasi yang sebenarnya sangat indah ini, terkenal angker dan gawat, karena dibangun diatas bekas kuburan . Suasana siang saja  sangat sepi  dan lengang, apalagi bila malam tiba, gelap gulita, hanya sedikit lampu,  sunyi senyap bahkan seram mencekam…  Beberapa kali ada teman-teman  Herri yang suka tinggal dan ingin menemani  Herri disana tapi tak pernah  bertahan lama… paling  2-3 malam lantas kabur ketakutan… karena sering diganggu makhluk halus. Sedangkan Herri sendiri meskipun takut , rupanya tak ambil pusing dengan gangguan –gangguan itu. Buktinya dia tetap bertahan  selama  hampir setahun tinggal disana, siang malam sendirian...sebelum akhirnya berangkat ke Bali.
Tempat yang tenang di tepi sungai Bengawan Solo ini, rupanya menyuburkan kreativitas Herri Soedjarwanto. Dia terus melukis dan juga menggambar komik  dari  pagi sampai sore,  disambung lagi malam sampai pagi…, tanpa henti ..dengan hanya sedikit tidur… begitu setiap harinya… Sehing ga lama kelamaan berita menyebar dan Herri menjadi “terkenal” dikalangan pelukis  : ”....di Taman Jurug  ada “orang gila” yang nggambar terus dari pagi sampai pagi lagi, nggak pernah tidur… padahal tempatnya angker”.. 
 Hikmahnya…Banyak pelukis tua di Solo, bahkan pelukis-pelukis dari luar kota yang kebetulan ke Solo, menyempatkan diri untuk menengok, berkenalan, atau sekedar ingin tahu keberadaan  “orang gila”  ini di Jurug..  Beberapa pelukis tua yang merasa simpati dan kasihan kepadanya memberi  info dan saran  yang mengusik pikirannya



“ Kalau melihat cara nggambarmu yang nonstop -  siang malam sampai pagi - seperti ini, sayang kalau kamu cuma di Solo saja. .. Nampaknya kamu akan sangat cocok dengan pak Dullah…beliau kalau melukis juga sampai pagi… Cobalah kamu pergi ke Bali..menemui  pak Dullah.. beliau sedang mencari murid yang bisa menemani dan mendampinginya melukis  sampai pagi....  Muridnya yang ada sekarang, sehabis dunia dalam berita TVRI jam 9 malam, sudah pada tidur,.. Mbok dicoba ke Bali.. sepertinya  pak Dullah akan cocok dengan kamu…”

Kata-kata  para pelukis tua itu  menyentak dan mengingatkan Herri bahwa tujuan dan cita-cita sejatinya adalah menjadi pelukis.. bukan illustrator atau komikus. Sejak itu Herri mulai berpikir dan bersiap-siap  untuk melangkah  ke Bali menemui pak Dullah. Satu langkah yang akhirnya  kemudian merobah jalan hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...