Awal belajar melukis sambil mulai membuat komik
Tahun 1976-77, Herri Soedjarwanto ( 18 tahun), sedang mengerjakan komiknya Kho Ping Ho “Si Tongkat Sakti” ( 7 jilid ) dan dilanjutkan dengan “Patung Dewi Kwan Im”… dalam rangka mencari beaya karena ingin kuliah di ASRI Jogja, atau Seni Rupa ITB.. Awalnya komik itu dikerjakannya di rumah orang tuanya disebuah kampung kumuh dan sempit di Solo. Kampung yang padat dengan puluhan anak-anak kecil yang bila bermain ,disertai dengan jeritan ramai dan gaduh, tentu kurang kondusif untuk menyusun karangan / scenario dan gambar untuk sebuah komik, yang membutuhkan ketenangan.
Saat itu Herri terdaftar sebagai anggota HBS ( Himpunan Budaya Surakarta ). Ketika seseorang menawarkan pada HBS dan langsung pada Herri , untuk menempati / menunggu sebuah bangunan kosong ( bekas gedung Billiard ) di Taman Jurug di tepi sungai Bengawan Solo, tanpa pikir panjang lagi Herri langsung setuju dan pindah kesana, memboyong seluruh alat lukisnya dan juga komiknya..
Taman Jurug waktu itu adalah sebuah taman rekreasi yang mati, hanya ramai dikunjungi pada hari Minggu siang. Stand Billiard yang kemudian diganti permainan pachinko-pun sudah mati, Itu sebabnya bangunannya dipinjamkan ke HBS. Di situlah setiap hari Minggu, menggunakan momentum ramainya pengunjung , HBS mengadakan kegiatan melukis model bersama .
Lokasi yang sebenarnya sangat indah ini, terkenal angker dan gawat, karena dibangun diatas bekas kuburan . Suasana siang saja sangat sepi dan lengang, apalagi bila malam tiba, gelap gulita, hanya sedikit lampu, sunyi senyap bahkan seram mencekam… Beberapa kali ada teman-teman Herri yang suka tinggal dan ingin menemani Herri disana tapi tak pernah bertahan lama… paling 2-3 malam lantas kabur ketakutan… karena sering diganggu makhluk halus. Sedangkan Herri sendiri meskipun takut , rupanya tak ambil pusing dengan gangguan –gangguan itu. Buktinya dia tetap bertahan selama hampir setahun tinggal disana, siang malam sendirian...sebelum akhirnya berangkat ke Bali.
Tempat yang tenang di tepi sungai Bengawan Solo ini, rupanya menyuburkan kreativitas Herri Soedjarwanto. Dia terus melukis dan juga menggambar komik dari pagi sampai sore, disambung lagi malam sampai pagi…, tanpa henti ..dengan hanya sedikit tidur… begitu setiap harinya… Sehing ga lama kelamaan berita menyebar dan Herri menjadi “terkenal” dikalangan pelukis : ”....di Taman Jurug ada “orang gila” yang nggambar terus dari pagi sampai pagi lagi, nggak pernah tidur… padahal tempatnya angker”..
Hikmahnya…Banyak pelukis tua di Solo, bahkan pelukis-pelukis dari luar kota yang kebetulan ke Solo, menyempatkan diri untuk menengok, berkenalan, atau sekedar ingin tahu keberadaan “orang gila” ini di Jurug.. Beberapa pelukis tua yang merasa simpati dan kasihan kepadanya memberi info dan saran yang mengusik pikirannya .
Hikmahnya…Banyak pelukis tua di Solo, bahkan pelukis-pelukis dari luar kota yang kebetulan ke Solo, menyempatkan diri untuk menengok, berkenalan, atau sekedar ingin tahu keberadaan “orang gila” ini di Jurug.. Beberapa pelukis tua yang merasa simpati dan kasihan kepadanya memberi info dan saran yang mengusik pikirannya
“ Kalau melihat cara nggambarmu yang nonstop - siang malam sampai pagi - seperti ini, sayang kalau kamu cuma di Solo saja. .. Nampaknya kamu akan sangat cocok dengan pak Dullah…beliau kalau melukis juga sampai pagi… Cobalah kamu pergi ke Bali..menemui pak Dullah.. beliau sedang mencari murid yang bisa menemani dan mendampinginya melukis sampai pagi.... Muridnya yang ada sekarang, sehabis dunia dalam berita TVRI jam 9 malam, sudah pada tidur,.. Mbok dicoba ke Bali.. sepertinya pak Dullah akan cocok dengan kamu…”
Kata-kata para pelukis tua itu menyentak dan mengingatkan Herri bahwa tujuan dan cita-cita sejatinya adalah menjadi pelukis.. bukan illustrator atau komikus. Sejak itu Herri mulai berpikir dan bersiap-siap untuk melangkah ke Bali menemui pak Dullah. Satu langkah yang akhirnya kemudian merobah jalan hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar