Rabu, 23 Februari 2011

Membanting pintu pelukis Dullah.

Kisah  unik dan nyata; menarik, motivasi, inspirasi;
Pelukis realis Indonesia Herri Soedjarwanto.
Dullah dikenal sebagai pelukis Istana Presiden RI pada masa Bung Karno. Dia mendirikan “Sanggar Pejeng”,  yang menempati  bangunan bekas  Hotel  Puri Pejeng  yang sudah mati. Letaknya di dalam Puri Pejeng, bekas kerajaan tertua di Bali. Banyak orang datang untuk belajar melukis disana. Di ujung tahun 1977, Herri adalah murid Dullah yang termuda dan baru saja datang. Ini kisah nyata ketika baru beberapa hari disana.  (modus cerita:  aku)

Suatu ketika,  tengah asyik melukis di kamar merangkap studioku, kudapati  bensin yang kupakai untuk mencuci kuas telah habis. Kebetulan stok bensin teman-teman juga pada habis.  Penjual  bensin eceran jaraknya  cukup jauh. Kalau harus  beli sekarang, jalan kaki, makan waktu lama, takut kehilangan mood melukis yang sedang bagus. Jadi , minta saja ke studio pak Dullah, pasti ada.  

Terlihat dari luar pak Dullah sedang melukis ditemani  Kok Poo, muridnya yang paling tua (40 tahun). Kuketuk pintu, Pak Dullah menoleh,  berhenti melukis dan memandang kearahku dengan penuh selidik . Aku merasa tak enak dipandangi seperti itu. Aku langsung membuka pintu, tanganku masih  memegang handel pintu, tapi  belum sempat  masuk, belum sempat bicara apa-apa, tiba-tiba saja pak Dullah langsung menegur dengan nada menuduh dan memarahi:
“ Lho, kamu ini…!?  anak baru ... kok malah enak-enakan  santai disini..  harusnya kerja keras dong.. seperti teman-temanmu yang lain, yang sudah senior!”  Kalau dipikir sekarang sih, kata-kata itu wajar saja. Tapi saat itu aku anak muda 18-19 tahun, yang punya harga diri karena sudah ‘mandiri’ bahkan sejak umur  12 tahun.

Aku betul-betul kaget,  tak ada angin tak ada hujan tahu-tahu kena damprat seperti itu. Aku betul-betul tersinggung berat. Sejak klas 6 SD aku sudah merantau jauh dari orang tua. Jadi tukang kebun , jadi tukang plitur, penjaga pasar malam, kemudian umur 18 aku sudah bikin komik dengan Kho Ping Hoo yang hasilnya untuk orang tua sekeluarga. Aku tahu apa itu kerja keras dan tanggung jawab, jadi ketika ada yang menuduh aku tak tahu kewajiban dan tanggung jawab aku benar-benar tersinggung dan marah berat, sampai tak bisa berkata –kata. Mataku terasa gelap , badanku gemetar… dan tiba-tiba… gubraakk..!!... entah bagaimana, tiba-tiba saja  pintu itu sudah kubanting sekeras-kerasnya..! Sempat kulihat pak Dullah dan Kok Poo sangat kaget sampai melongo, tak menyangka reaksiku akan sebegitu keras dan frontal….  Kemudian,  tanpa berkata sepatahpun aku berbalik pergi.

Belum sampai masuk tempat tinggalku , KoK Poo mengejar di belakangku sambil berteriak:
“Mas Herri tunggu dulu… jangan gitu dong… sabaar…pak Dullah kan orang tua,..seorang tokoh,  punya nama besar lagi, jadi tak sepantasnya  mas Herri  bersikap seperti itu.. anda harus minta maaf…”
“Koh KoK Poo kan tahu… saya bekerja paling keras disini, menggambar siang malam,  tak perlu diawasi, karena saya benar-benar senang dan ingin segera bisa mengentaskan keluarga  dan orang tua . Koh Kok Poo kan  juga tahu,  teman-teman yang lain cuma santai-santai, dolan, nongkrong di warung dan sebagainya , lantas mereka  pura-pura  terlihat sibuk dan giat ketika pak Dullah datang memeriksa … Kok bisa-bisanya pak Dullah mengatakan hal yang sebaliknya seperti itu…?” kutumpahkan segala kekesalanku.
“Yaah.. saya tahu itu… karena setiap saat saya mampir  kesini.. . Tapi pak Dullah kan tidak?... jadi beliau benar-benar tak  tahu.”
“ Lha kalau nggak tahu kenapa langsung mendamprat seperti  itu?” protesku masih dengan rasa tak puas..
“ Beliau tahunya anak-anak lain tak terlihat, berarti sedang bekerja/ melukis. Sedang mas Herri  terlihat berjalan tak membawa lukisan, ya dikira sedang santai tak bekerja.  Intinya : beliau tak tahu bahwa mas Herri sudah bekerja keras. Jadii… pak Dullah harus dibuat menjadi tahu. Tunjukkan pada pak Dullah dong..”
“Koh Kok Poo, saya kerja keras  karena saya cinta dan ikhlas untuk cari ilmu serta  menolong orang tua dirumah. Saya tak perlu menunjukkannya pada orang lain”
“Yaa.. saya paham prinsip itu… tapi untuk kasus ini justru sebaliknya. Karena apa?.. Beliau tadi sangat kaget dan tersinggung, sebagai seorang tokoh, baru kali ini ada anak muda yang berani marah dan membanting pintunya... Selama ini yang berani marah langsung kan Cuma Bung Karno… Jadi kesan pak Dullah tentang anda sekarang  ini buruk sekali, anda dinilai kurang ajar !”
“Benar juga ya… lantas bagaimana baiknya?” emosiku menurun,  aku mulai berpikir jernih lagi…
“Mas Herri harus tunjukkan pada pak Dullah bahwa anda tak seperti yang beliau pikirkan.”
“Caranya gimana koh Kok Poo..? Apa saya harus  bekerja tepat  di sebelah beliau , supaya kelihatan  terus –terusan bekerja?... Begitu? Kan berlebihan..” tanyaku berseloroh.
“Yaa… kalau perlu , memang harus begitu.!” Ternyata  Kok Poo menanggapi serius.
“Lho… memangnya boleh menggambar di sebelah pak Dullah ? kok selama ini tak ada teman-teman  yang nggambar disitu selain koh Kok Poo?”
“Sebetulnya boleh saja… Cumaa, memang tak ada yang berani menggambar di sebelahnya pak Dullah karena bermacam alasan. Kalau mas Herri  pasti berani… wong banting pintu aja berani  kok ..he-he-he… Segera saja lho ya, kalau ditunda lagi saya khawatir pak Dullah semakin sakit hati dan mengusir anda.”

(*dialog aku (Herri ) dan Kok Poo diatas tercetak sangat kuat dalam memori ku, serasa baru kemarin aku bicara dengan Kok Poo... “ terimakasih koh  Kok Poo, Salam hangat “…*)

Setelah Kok Poo kembali ke studio pak Dullah , tak lama kemudian aku juga segera  menemui pak Dullah yang masih melukis. Suasananya benar-benar tidak enak. Aku datang tak digubris oleh pak Dullah. Boro-boro diajak bicara, dilihat saja tidak. Betul-betul didiamkan, dianggap tak ada , padahal berada dalam satu ruang , dan hanya berjarak kurang dari 2 meter. Diterima tidak, diusir juga tidak..! Sungguh suasana yang sangat kaku dan tidak enak banget bagiku.  Rencana yang kususun dengan Kok Poo agar pertama kali  minta maaf atas kejadian banting pintu tadi pun  batal, karena lidahku  jadi beku. Dalam suasana tak menentu itu, otakku berhenti, tak bisa berpikir lagi. Dalam keadaan kritis, pikiran dan perasaanku  kukosongkan, kembali ke nol lagi, kembali ke niatan awal: jauh-jauh aku ke Bali, dengan meninggalkan kontrak komik Kho Ping Hoo yang cukup tinggi adalah menemui pak Dullah untuk belajar melukis… yaa melukis / menggambar, itu adalah fokusku..

Tanpa berkata apapun aku langsung duduk dilantai disebelah kursi yang diduduki  pak Dullah untuk melukis. Aku hanya fokus ingin menggambar, itu saja.! Aku siapkan pensil, kertas serta sebuah cermin ukuran 50x60cm, untuk membuat gambar/ drawing wajah sendiri.  Pak Dullah tampak tak peduli , aku dianggapnya tak ada. Aku pun sudah tak peduli pada apa pun di sekitarku. Hanya ada satu fokus : nggambar.. nggambar.. nggambar ..itu saja.  Dan.. dimulailah suasana ganjil itu. Aku dan pak Dullah melukis bersebelahan mepet (pak Dullah duduk di kursi aku di lantai) tapi saling tak bicara.

Beberapa saat kemudian, sore  sekitar jam  18.00 pak Dullah masuk kamar, istirahat, tidur. Akupun berbaring  tidur di lantai studio itu juga. Lalu sekitar jam 20.00 pak Dullah bangun, ditandai dengan suara berisik di kamar dan kamar mandi. Juga sesaat akan keluar dari kamar, terdengar suara berisik kunci dan gerendel pintu dibuka. Suara-suara  itu membuatku terbangun dan segera  bersiap, sehingga ketika pak Dullah ke ruang studio, beliau melihat aku sedang menggambar.

Setelah makan malam , langsung mulai melukis lagi sampai subuh. (Sementara Kok Poo sekitar jam 9-10 malam sudah tidur). Sekitar jam 4 subuh pak Dullah masuk kamar, istirahat, tidur. Begitu beliau masuk kamar, aku juga segera berbaring tidur dilantai studio itu juga. Dua jam kemudian sekitar jam  6 pagi beliau bangun. Aku bisa mendengar suara berisiknya, dan  cepat bangun juga. Dan ketika pak Dullah ke studio, maka beliau melihat aku sedang menggambar.!  Begitu  terus setiap hari.

Pendek kata , pak Dullah tak pernah tahu kapan aku tidur, karena setiap beliau berangkat tidur, aku masih menggambar. Ketika beliau bangun pun dilihatnya aku masih menggambar di situ juga!...  Hal seperti itu berlangsung terus menerus sampai 2 minggu…dan “hebatnya”  selama itu beliau tak bicara satu patah katapun kepadaku..!!..padahal  duduk  bersebelahan.

Setelah 2 minggu x 24 jam di dalam studio, aku telah membuat hampir duaratus lembar sketsa, drawing  dengan bermacam obyek seperti: selfportrait, wajah pak Dullah, Kok Poo, alam benda, tangan,  kaki dan lain-lain.  Malam itu sekitar jam 2 dini hari, ketika sedang asik nggambar dari cermin , tiba-tiba dari atas kepalaku, pak Dullah menjulurkan tangan mengambil gambar yang sedang kukerjakan.
“Lha.. iki apik Her ( lha.. ini bagus Her..)… Ini baru sket lukisan... sedangkan yang kemarin-kemarin itu masih ilustrasi, belum lukisan.... “ Itu adalah kata-kata pertama yang diucapkan pak Dullah kepadaku sejak kasus banting pintu dua minggu yang lalu. Kata-katanya terdengar  lembut di telingaku , layaknya seorang  ayah kepada anaknya.  Aku kaget,.. terharu dan juga lega sekali, segera  kuraih tangan pak Dullah, kuciumi sambil terbata-bata meminta maaf atas kesalahanku. Kulihat beliau juga berkaca-kaca: “ Tak apa Her, pak Dullah juga minta maaf karena dulu tak tahu. Tapi sekarang  pak Dullah benar-benar tahu siapa Herri..”


Sejak saat  itu hubungan kami menjadi sangat dan sangat dekat..  setiap malam aku menemani pak Dullah melukis berdua bersama sampai pagi..



Dan itu bukanlah hal sepele.. karena justru pak Dullah biasanya membeberkan ilmunya dan rahasia realisme pada saat-saat sunyi , tengah malam atau dini hari jam 2 jam 3 menjelang subuh, sesaat setelah berhenti melukis. Dimana saat itu biasanya hanya tinggal kami berdua, aku dan pak Dullah, empat mata saja... Itu salah satu sebab mengapa dalam setahun saja aku mengalami kemajuan sangat pesat layaknya orang belajar 5 tahun. ( selain tentu saja karena kerja keras dengan jam terbang lebih 16 jam sehari )

Kemudian secara resmi aku diangkat menjadi asisten Pak Dullah. Selain menjadi asistennya dalam urusan melukis, aku juga diberi tugas khusus : mewakili Pak Dullah dalam membimbing dan mengajar teknis melukis di studio (model) maupun di lapangan (landscape), untuk teman-teman pelukis sanggar Pejeng lainnya. Meskipun saat itu aku terhitung murid yang termuda, baik dari segi usia maupun masuknya dalam sanggar.

Selain tugas resmi itu, aku juga melakukan segala hal untuk pak Dullah, seperti :  membuatkan teh, mengurus pigura  dan kanvas, menjualkan lukisannya ke galeri, menagih uang , mengurus uang pak Dullah di Bank, mencari model, menjadi tempat curhat pak Dullah, teman jalan-jalan, mendampingi pak Dullah bertemu Gubernur, mewakili Pak Dullah dalam beberapa urusan,... bahkan sampai pasang badan menjadi kambing hitam saat ada masalah serius.. Singkat kata , buat saya pak Dullah adalah guru, ayah dan sahabat saya…

Lihat foto nostalgia 
Dullah dan Herri.. juga yang lain-lain  klik disini ( Galeri Foto...)

Sabtu, 19 Februari 2011

“ Sudah Modal Dengkul , Ngeyel Lagi…!”









Kho Ping Hoo dan aku ( Herri Soedjarwanto ) 


Salah satu nama yang cukup berpengaruh dalam hidupku adalah Kho Ping Hoo. Pada masa kanak-kanak hingga remaja aku sangat suka membaca novel silat karyanya. Bahkan kecanduan. Kenapa bisa begitu? Singkatnya: Selain alur cerita yang menarik, penggambaran suasana alam dan sejarah yang sangat hidup, disitu juga banyak berisi pelajaran berharga , tuntunan kebaikan, nilai-nilai luhur mulia dan sebagainya.. sehingga para orang tuapun tak melarang, bahkan menganjurkan anak-anak untuk membacanya…

Sejak kelas 2 SD di Solo, lantas merantau ke Kalimantan (saat klas 6 SD), sampai SMP dan SMA di Banjarbaru (Kal-Sel), novel silat Kho Ping Hoo tak pernah lepas dari menu bacaan sehari-hari. Sewaktu lulus SMA ( 1975-1976) dan tak didukung kuliah di ASRI, yang pertama muncul dalam benakku adalah; aku ingin segera pulang ke Solo ingin ketemu Kho Ping Hoo yang rasanya seperti “sudah kukenal sangat akrab”.

Sampai di Solo, karena masih ingin kuliah di ASRI (Jogja), coba kerja serabutan untuk ngumpulin uang buat kuliah. Setelah sekitar 5 - 6 bulan baru sadar , kerja kasar hasilnya kecil, habis untuk dimakan dan hanya sedikit sisa yang tak mungkin cukup untuk masuk kuliah. Tapi kalau sekedar beli cat air, kertas dan tinta untuk bikin komik / cergam (cerita bergambar), dan buat makan selama sebulan semasa penggarapan , rasanya sudah cukup. Jadi, aku mulai start bikin komik dan 3 minggu kemudian selesai satu jilid. Aku bermaksud menunjukkannya pada Kho Ping Hoo. Setelah bertanya kesana kemari dan menelusuri beberapa hari, akhirnya kudapatkan sebuah alamat. Kukayuh sepeda ontelku kesana , … oh ternyata itu kantor perusahaan atau gudang atau percetakan (?), yang menerbitkan karya-karya Kho Ping Hoo. Tak apa, bisa kumulai dari sini.

Aku ditemui langsung oleh boss disitu. Setelah mendengar ceritaku dan melihat komikku dia berkata :
“ Maaf , Bapak Kho Ping Hoo tak ada ditempat, beliau selalu menyepi menyendiri di vila untuk menulis naskah-naskahnya, jadi tak bisa diganggu dan ditemui.. Kemudian , soal komik… maaf, kami tidak menerbitkan kecuali naskah ceritanya dari Kho Ping Hoo“ .. agak kecewa aku mendengarnya, tapi aku bertekad tak mau pulang dengan tangan hampa. 
“Oh, jadi kalau saya bikin komik dengan naskahnya Kho Ping Hoo bisa diterbitkan?” tanyaku.
“Maaf, kami tak bisa karena gambar anda masih kurang bagus, berantakan , tidak rapi” .katanya datar. 
“Maaf kalau yang begini tak bagus, terus yang bagus seperti apa?” Tanyaku penasaran.




Boss yang baik ini langsung menunjukkan sebuah contoh komik karya Yanes, seorang komikus senior dan sudah lama menjadi illustrator karya Kho Ping Hoo. Itu pertama kalinya kulihat komik asli yang belum dicetak. Sangat bagus dan mengesankan. Setelah mengamati secara seksama , aku jadi mengerti dan baru tahu bahwa , sebelum di blok tinta ternyata di sket dulu dengan pensil, dihapus kalau salah dan seterusnya. Pantesan terlihat bagus dan rapi. Padahal gambarku spontan tanpa sket pensil. Tentu saja “berantakan”.






“Maaf Pak, setelah melihat contoh ini, ternyata dia pakai sket pensil dulu, saya yakin saya juga bisa membuat yang sebagus ini Pak.” Kataku penuh semangat.
“Maaf, anda sudah menunjukkan karya anda, dan saya sudah putuskan tak bisa menerimanya “, katanya sambil hendak pergi. Aku segera berdiri menghalangi jalannya. Dia terlihat tak senang dengan sikapku. Aku terpaksa , karena hanya dengan cara itu dia mau mendengar kata terakhirku.
“ Pak saya janji, besok saya akan kesini lagi membawa gambar saya yang baru, kalau disket pensil dulu pasti lebih bagus.”
“ Terserah anda, yang jelas anda telah ditolak disini, jadi tak perlu datang kesini lagi, silahkan ke tempat lain saja.” Jawabnya dengan nada agak tinggi, setengah mengusirku, sambil berjalan pergi.












Sampai di rumah aku langsung bikin lagi 5 buah gambar ilustrasi gerakan jurus silat. Kali ini aku sket dulu pake pensil dan penghapus, baru diblok tinta. Besoknya pagi-pagi sekali aku langsung ke penerbit itu lagi. 






Walau jarak pintu gerbang “pabrik” itu ke kantor cukup jauh, posisi pintu gerbang itu berhadapan lurus dengan posisi meja pak boss di dalam kantor . Artinya siapapun yang keluar masuk gerbang akan terlihat jelas dan langsung oleh si boss. 

( hari ke 2) Begitu mendengar suara berisik sepeda dituntun, boss menengok , ketika melihat aku datang memasuki gerbang, wajah si boss terlihat masam. Kuparkir sepedaku disamping, lalu segera berjalan menuju kantor. Tapi ternyata meja Boss telah kosong, nampaknya dia menghindar tak mau menemuiku.

Seorang staf mendatangiku dengan sopan : “ Ada perlu apa dik? Bisa saya bantu?” 
“ Saya ingin bertemu boss, kemarin sudah janji mau menunjukkan gambar saya yang baru.”
“ Kebetulan boss sedang ada keperluan lain, bagaimana kalau gambarnya ditinggal saja dulu, nanti saya tunjukkan pada boss? Besok anda kesini lagi untuk tahu hasilnya.” Dia berusaha membujukku dengan halus dan baik. Tapi aku tetap ragu, ya kalau ditunjukkan ke boss ..kalau tidak? Terus besok dia bilang boss sudah lihat tapi tak setuju… ! Aku akan kehilangan kesempatanku selamanya. Mungkin ini cara halus untuk menolakku.
“ Maaf pak, kalau saya tinggalkan gambar ini, toh besok saya harus kesini lagi. Jadi saya bawa pulang saja, besok saya bawa kesini lagi. Saya hanya ingin boss langsung lihat sebentar dan memutuskan..”

Besoknya ( hari ke 3 )terulang lagi kejadian itu, aku datang pagi-pagi, suara sepedaku yang berisik membuat boss menengok, lalu aku ditinggal pergi lagi, lalu aku juga menolak lagi untuk meninggalkan gambarku disana. 

Besoknya ( hari ke 4) aku datang lagi, kali ini kupakai ‘strategi ‘ baru. Kutitipkan sepedaku pada tetangga diluar “pabrik”. Kemudian aku berjalan mengendap-endap masuk gerbang dan menyelinap ke kantor. Boss yang sedang sibuk dan focus dengan pekerjaan di mejanya tak mendengar kedatanganku. 
“ Selamat pagi pak..”.. boss terlihat kaget melihat aku tiba-tiba di depan mejanya. Dia benar-benar tak senang, sampai kehilangan kata-kata. Hanya wajahnya yang merah dan matanya menusuk tajam. 
“Kamu lagi..! “ katanya ketus.
“Maafkan saya pak, saya hanya ingin ketemu bapak semenit saja. Tolong lihat gambar saya yang baru, setelah itu saya tak akan datang kemari lagi.” Kukatakan itu sambil (tanpa diminta) membuka gambarku di mejanya tepat di hadapannya. Jadi, suka atau tidak, pasti akan terlihat juga. 
Dia hanya melihat sekilas dan cepat menyahut , masih dengan suara ketus.
“ Sudah..sudah… tinggalkan disitu… nanti saya lihat.. ” Katanya sambil berdiri dan pergi meninggalkanku. Stafnya mendekati aku : “ Dik kelihatannya boss marah, besok saja anda kesini lagi ya...”

Besoknya aku datang lagi. Sejak kemarin perasaanku sudah datar dan tawar-tawar saja, tak terlalu berharap pada boss itu, tapi hanya berdoa dan memohon pada BOSS yang diatas sana. 
Ini hari yang ke 5 aku datang kemari. Mendengar suara berisik sepeda dituntun, boss menengok , ketika melihat aku datang, wajah si boss terlihat tersenyum..… tersenyum? …lho gak salah? … benar tersenyum kok.. !! .. waahh … aku yang tadinya sudah nothing to loose, sekarang malah jantungku jadi berdegup keras . Begitu masuk ruang kantor, si boss langsung berkata:
“Nah, kalau gambarmu seperti ini sih , bisa diterima disini…”katanya sambil menjabat tanganku. Untuk sesaat aku seperti disambar petir, kaku, tak bisa bergerak dan berkata-kata. Hanya merinding di seluruh tubuhku.
“Kita ada rencana membuat novel Kho Ping Hoo menjadi komik cerita bergambar ( cergam ). Sekarang saya ingin tahu bagaimana kemampuanmu membuat scenario untuk naskah Kho Ping Hoo yang ini.” Si boss memberi setumpuk novel Kho Ping Hoo berjudul : Si Tongkat Sakti. 

Dua hari kemudian , setelah sebagian scenario untuk komik itu selesai kubuat dan di setujui , maka urusan terakhir adalah mengisi formulir macam-macam, termasuk kontrak kerja dan sebagainya. Setelah selesai semua.. resmi sudah aku membuat komik dengan naskah Kho Ping Hoo. Setelah urusan teken meneken kontrak tuntas , kamipun berjabat tangan … selesai.. Tapi si boss rupanya merasakan suasana yang aneh.
“ Herri , kenapa masih duduk disini? Urusan kita sudah beres disini, anda tinggal mulai bekerja saja, … silahkan … anda sudah boleh pulang .” 
“ Yaa.. itulah masalahnya pak.. saya mulai kerja pakai apa? “
“ Apa maksudmu..?”
“ Untuk membuat komik kan perlu kertas, tinta dan peralatan macam-macam .. satu jilid butuh waktu satu bulan, .. selama itu kan saya juga harus makan pak?.. 
“ Lha iya dong… terus maksudmu apa..?”
“Yaa.. terus semua itu saya dapat dari mana pak? Uang saya sudah habis buat komik saya yang pertama dulu itu” 
“ Jadii…?”
“ Yaa.. kalau boleh saya mau pinjam uang dulu pak buat biaya hidup sebulan , nanti kalau komiknya sudah jadi , baru saya kembalikan...”. kataku sambil menebalkan muka.
Suasana menjadi hening. Si boss menatapku tajam, dari ujung kepala sampai ujung kaki sambil menghela nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala. Sesaat kemudian tawanya meledak berkepanjangan : 
“Wah..wah..waaah.. kamu ini betul-betul modal dengkul ya? … sudah modalnya dengkul , ngeyel lagi.. ha-ha-ha-ha.. “ 
Aku cuma ikut ketawa kecut sambil menimpali: 
“ Iya pak , buat saya dengkul = tekad. .. Dimana ada dengkul dan ngeyel, disitu pasti ada jalan… hehehe..”
Karena pagi itu belum ada uang di kas, si boss merogoh uang dari kantongnya sendiri, dan memberikannya padaku tanpa tanda terima apapun, artinya dia percaya padaku.
“ Ini ada Rp 10.000,- cukup untuk hidup sendiri sebulan. . dikembalikan lho ya.. dan segera selesaikan komiknya.” Kata si boss sambil ketawa. Belakangan aku baru tahu si boss yang baik hati ini adalah anak menantu (?) KHo Ping Hoo, aku hanya tahu panggilannya Pak Bun atau Koh Bun. 

CATATAN
Akhirnya aku memang tak pernah sempat bertemu langsung dengan Kho Ping Hoo.. tapi bisa “berkolaborasi” dalam karyanya saja sudah merupakan kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi anak muda dan pemula seperti aku... Mengingat juga bahwa karya-karya Kho Ping Hoo, adalah salah satu yang cukup banyak menuntunku pada masa remaja, dalam masa pencarian jati diri… 
Tahun 1976-1977, aku sempat mengerjakan “ Si Tongkat Sakti” 7 jilid , kemudian “ Patung Dewi Kwan Im” ( baru sampai jilid 5 ). Saat itu aku mendapat honor Rp 30.000,- per jilidnya. Aku bisa selesaikan satu jilid ( 64 halaman) dalam waktu 3 minggu, Bandingkan dengan Yanes, yang satu jilid saja bisa sampai 2 – 3 bulan lamanya (mungkin sebagai illustrator senior, ordernya terlalu banyak menumpuk). Karena kinerjaku dinilai bagus dan cepat, aku dapat kenaikan lagi, menjadi Rp 45.000,- per jilid. Seorang komikus senior yang sejak SD aku sudah sering baca komiknya, Ricky NS (almarhum) , yang biasa memasukkan komiknya ke Jakarta, takjub melihat honorku. Katanya itu tinggi sekali, lebih tinggi dari para senior di Jakarta. Itu sebabnya , setelah aku berangkat merantau ke Bali, kudengar posisiku digantikan Ricky NS .

Baca tulisan terkait topic ini:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...