Walau jarak pintu gerbang “pabrik” itu ke kantor cukup jauh, posisi pintu gerbang itu berhadapan lurus dengan posisi meja pak boss di dalam kantor . Artinya siapapun yang keluar masuk gerbang akan terlihat jelas dan langsung oleh si boss.
( hari ke 2) Begitu mendengar suara berisik sepeda dituntun, boss menengok , ketika melihat aku datang memasuki gerbang, wajah si boss terlihat masam. Kuparkir sepedaku disamping, lalu segera berjalan menuju kantor. Tapi ternyata meja Boss telah kosong, nampaknya dia menghindar tak mau menemuiku.
Seorang staf mendatangiku dengan sopan : “ Ada perlu apa dik? Bisa saya bantu?”
“ Saya ingin bertemu boss, kemarin sudah janji mau menunjukkan gambar saya yang baru.”
“ Kebetulan boss sedang ada keperluan lain, bagaimana kalau gambarnya ditinggal saja dulu, nanti saya tunjukkan pada boss? Besok anda kesini lagi untuk tahu hasilnya.” Dia berusaha membujukku dengan halus dan baik. Tapi aku tetap ragu, ya kalau ditunjukkan ke boss ..kalau tidak? Terus besok dia bilang boss sudah lihat tapi tak setuju… ! Aku akan kehilangan kesempatanku selamanya. Mungkin ini cara halus untuk menolakku.
“ Maaf pak, kalau saya tinggalkan gambar ini, toh besok saya harus kesini lagi. Jadi saya bawa pulang saja, besok saya bawa kesini lagi. Saya hanya ingin boss langsung lihat sebentar dan memutuskan..”
Besoknya ( hari ke 3 )terulang lagi kejadian itu, aku datang pagi-pagi, suara sepedaku yang berisik membuat boss menengok, lalu aku ditinggal pergi lagi, lalu aku juga menolak lagi untuk meninggalkan gambarku disana.
Besoknya ( hari ke 4) aku datang lagi, kali ini kupakai ‘strategi ‘ baru. Kutitipkan sepedaku pada tetangga diluar “pabrik”. Kemudian aku berjalan mengendap-endap masuk gerbang dan menyelinap ke kantor. Boss yang sedang sibuk dan focus dengan pekerjaan di mejanya tak mendengar kedatanganku.
“ Selamat pagi pak..”.. boss terlihat kaget melihat aku tiba-tiba di depan mejanya. Dia benar-benar tak senang, sampai kehilangan kata-kata. Hanya wajahnya yang merah dan matanya menusuk tajam.
“Kamu lagi..! “ katanya ketus.
“Maafkan saya pak, saya hanya ingin ketemu bapak semenit saja. Tolong lihat gambar saya yang baru, setelah itu saya tak akan datang kemari lagi.” Kukatakan itu sambil (tanpa diminta) membuka gambarku di mejanya tepat di hadapannya. Jadi, suka atau tidak, pasti akan terlihat juga.
Dia hanya melihat sekilas dan cepat menyahut , masih dengan suara ketus.
“ Sudah..sudah… tinggalkan disitu… nanti saya lihat.. ” Katanya sambil berdiri dan pergi meninggalkanku. Stafnya mendekati aku : “ Dik kelihatannya boss marah, besok saja anda kesini lagi ya...”
Besoknya aku datang lagi. Sejak kemarin perasaanku sudah datar dan tawar-tawar saja, tak terlalu berharap pada boss itu, tapi hanya berdoa dan memohon pada BOSS yang diatas sana.
Ini hari yang ke 5 aku datang kemari. Mendengar suara berisik sepeda dituntun, boss menengok , ketika melihat aku datang, wajah si boss terlihat tersenyum..… tersenyum? …lho gak salah? … benar tersenyum kok.. !! .. waahh … aku yang tadinya sudah nothing to loose, sekarang malah jantungku jadi berdegup keras . Begitu masuk ruang kantor, si boss langsung berkata:
“Nah, kalau gambarmu seperti ini sih , bisa diterima disini…”katanya sambil menjabat tanganku. Untuk sesaat aku seperti disambar petir, kaku, tak bisa bergerak dan berkata-kata. Hanya merinding di seluruh tubuhku.
“Kita ada rencana membuat novel Kho Ping Hoo menjadi komik cerita bergambar ( cergam ). Sekarang saya ingin tahu bagaimana kemampuanmu membuat scenario untuk naskah Kho Ping Hoo yang ini.” Si boss memberi setumpuk novel Kho Ping Hoo berjudul : Si Tongkat Sakti.
Dua hari kemudian , setelah sebagian scenario untuk komik itu selesai kubuat dan di setujui , maka urusan terakhir adalah mengisi formulir macam-macam, termasuk kontrak kerja dan sebagainya. Setelah selesai semua.. resmi sudah aku membuat komik dengan naskah Kho Ping Hoo. Setelah urusan teken meneken kontrak tuntas , kamipun berjabat tangan … selesai.. Tapi si boss rupanya merasakan suasana yang aneh.
“ Herri , kenapa masih duduk disini? Urusan kita sudah beres disini, anda tinggal mulai bekerja saja, … silahkan … anda sudah boleh pulang .”
“ Yaa.. itulah masalahnya pak.. saya mulai kerja pakai apa? “
“ Apa maksudmu..?”
“ Untuk membuat komik kan perlu kertas, tinta dan peralatan macam-macam .. satu jilid butuh waktu satu bulan, .. selama itu kan saya juga harus makan pak?..
“ Lha iya dong… terus maksudmu apa..?”
“Yaa.. terus semua itu saya dapat dari mana pak? Uang saya sudah habis buat komik saya yang pertama dulu itu”
“ Jadii…?”
“ Yaa.. kalau boleh saya mau pinjam uang dulu pak buat biaya hidup sebulan , nanti kalau komiknya sudah jadi , baru saya kembalikan...”. kataku sambil menebalkan muka.
Suasana menjadi hening. Si boss menatapku tajam, dari ujung kepala sampai ujung kaki sambil menghela nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala. Sesaat kemudian tawanya meledak berkepanjangan :
“Wah..wah..waaah.. kamu ini betul-betul modal dengkul ya? … sudah modalnya dengkul , ngeyel lagi.. ha-ha-ha-ha.. “
Aku cuma ikut ketawa kecut sambil menimpali:
“ Iya pak , buat saya dengkul = tekad. .. Dimana ada dengkul dan ngeyel, disitu pasti ada jalan… hehehe..”
Karena pagi itu belum ada uang di kas, si boss merogoh uang dari kantongnya sendiri, dan memberikannya padaku tanpa tanda terima apapun, artinya dia percaya padaku.
“ Ini ada Rp 10.000,- cukup untuk hidup sendiri sebulan. . dikembalikan lho ya.. dan segera selesaikan komiknya.” Kata si boss sambil ketawa. Belakangan aku baru tahu si boss yang baik hati ini adalah anak menantu (?) KHo Ping Hoo, aku hanya tahu panggilannya Pak Bun atau Koh Bun.
CATATAN
Akhirnya aku memang tak pernah sempat bertemu langsung dengan Kho Ping Hoo.. tapi bisa “berkolaborasi” dalam karyanya saja sudah merupakan kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi anak muda dan pemula seperti aku... Mengingat juga bahwa karya-karya Kho Ping Hoo, adalah salah satu yang cukup banyak menuntunku pada masa remaja, dalam masa pencarian jati diri…
Tahun 1976-1977, aku sempat mengerjakan “ Si Tongkat Sakti” 7 jilid , kemudian “ Patung Dewi Kwan Im” ( baru sampai jilid 5 ). Saat itu aku mendapat honor Rp 30.000,- per jilidnya. Aku bisa selesaikan satu jilid ( 64 halaman) dalam waktu 3 minggu, Bandingkan dengan Yanes, yang satu jilid saja bisa sampai 2 – 3 bulan lamanya (mungkin sebagai illustrator senior, ordernya terlalu banyak menumpuk). Karena kinerjaku dinilai bagus dan cepat, aku dapat kenaikan lagi, menjadi Rp 45.000,- per jilid. Seorang komikus senior yang sejak SD aku sudah sering baca komiknya, Ricky NS (almarhum) , yang biasa memasukkan komiknya ke Jakarta, takjub melihat honorku. Katanya itu tinggi sekali, lebih tinggi dari para senior di Jakarta. Itu sebabnya , setelah aku berangkat merantau ke Bali, kudengar posisiku digantikan Ricky NS .
Baca tulisan terkait topic ini:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar